Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan



Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, “Siapa ini?”, maka mereka menjawab, “Seorang penjaga istana”. Maka iapun berkata, “Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…”. Ia juga berkata, “Seandainya aku adalah budak milik seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut”.

Di antara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,
اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ
“Yaa Allah, jika engkau mengampuniku, maka berilah pengampunan-Mu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari”
Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, “Keluarkanlah aku di beranda istana…”, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ “Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu”. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini,
إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ
Jika engkau menyidangku wahai Rabb-ku, maka persidangan-Mu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi
أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ
Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha Memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah”
(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)
Penulis: Ustadz Firanda Andirja, Lc., M.A.
Artikel www.KisahMuslim.com

janji bertemu di surga

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar.

Si wanita -akhirnya- mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku’.
Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, ”Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabb-ku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar.” (Yunus: 15). Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.’
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo’akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”
Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta -wahai orang yang bertanya- adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan”.
Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?”
Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”
Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.”
Dia jawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Ta`ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”
Sumber: Kisah-Kisah Nyata Tentang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi`in, Orang-orang Dulu dan Sekarang, karya Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi, penerjemah Ainul Haris Arifin, Lc. (alsofwah.or.id)
Artikel www.KisahMuslim.com

istriku aku mencintaimu

Kendati dirinya telah keliling dunia, bahkan hampir tidak ada negara baru di dalam peta, dan terlalu sering naik pesawat terbang sehingga seperti naik mobil biasa, namun istrinya belum pernah naik pesawat terbang kecuali pada malam itu. Hal itu terjadi setelah 20 tahun pernikahan mereka. Dari mana? Dan kemana? Dari Dahran ke Riyadh. Dengan siapa? Dengan adiknya yang orang desa dan bersahaja yang merasa dirinya harus menyenangkan hati kakaknya dengan semampunya. Ia membawa wanita itu dengan mobil bututnya dari Riyadh menuju Dammam. Pada waktu pulang, wanita itu berharap kepadanya agar ia naik pesawat terbang. Wanita itu ingin naik pesawat terbang sebelum meninggal. Ia ingin naik pesawat terbang yang selalu dinaiki Khalid, suaminya, dan yang ia lihat di langit dan di televisi.

Sang adik mengabulkan keinginannya dan membeli tiket untuknya. Ia menyertakan putranya sebagai mahramnya. Sementara ia pulang sendirian dengan mobil sambil diguncang oleh perasaan dan mobilnya.
Malam itu Sarah tidak tidur, melainkan bercerita kepada suaminya, Khalid, selama satu jam tentang pesawat terbang. Ia bercerita tentang pintu masuknya, tempat duduknya, penerangannya, kemegahannya, hidangannya, dan bagaimana pesawat itu terbang di udara. Terbang!! Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran. Begitu selesai bercerita tentang pesawat terbang, ia langsung bercerita tentang kota Dammam dan perjalanan ke sana dari awal sampai akhir. Juga tentang laut yang baru pertama kali dilihatnya sepanjang hidupnya. Dan juga tentang jalan yang panjang dan indah antara Riyadh dan Dammam saat ia berangkat. Sedangkan saat pulang ia naik pesawat terbang. Pesawat terbang yang tidak akan pernah ia lupakan unuk selama-lamanya.
Ia bercerita sambil tercengang. Seolah-olah ia baru datang dari planet lain. Tercengang, terkesima, dan berbinar-binar. Sementara suaminya memandanginya dengan perasaan heran.
Ia berlutut seperti bocah kecil yang melihat kota-kota hiburan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia mulai bercerita kepada suaminya dengan mata yang berbinar penuh ketakjuban dan kebahagiaan. Ia melihat jalan raya, pusat perbelanjaan, manusia, batu, pasir, dan restoran. Juga bagaimana laut berombak dan berbuih bagaikan onta yang berjalan. Dan bagaimana ia meletakkan kedua tangannya di air laut dan ia pun mencicipinya. Ternyata asin… asin. Pun, ia bercerita bagaimana laut tampak hitam di siang hari dan tampak biru di malam hari.
“Aku melihat ikan, Khalid! Aku melihatnya dengan mata kepalaku. Aku mendekat ke pantai. Adikku menangkap seekor ikan untukku, tapi aku kasihan padanya dan kulepaskan lagi ke air.
Ikan itu kecil dan lemah. Aku kasihan pada ibunya dan juga padanya. Seandainya aku tidak malu, Khalid, pasti aku membangun rumah-rumahan di tepi laut itu. Aku melihat anak-anak membangun rumah-rumahan di sana. Oh ya, aku lupa, Khalid!” ia langsung bangkit, lalu mengambil tasnya, dan membukanya. Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia. Ia berkata, “Ini hadiah untukmu dariku. Aku juga membawakanmu sandal untuk kau pakai di kamar mandi.”
Ia mengeluarkan sebotol parfum dan memberikannya kepada sang suami. Ia merasa seolah-olah sedang memberikan dunia.
Air mata hampir menetes dari mata Khalid untuk pertama kali. Untuk pertama kalinya dalam hubungannya dengan Sarah dan perkawinannya dengan sang istri. Ia sudah berkeliling dunia tapi tidak pernah sekalipun memberikan hadiah kepada sang istri. Ia sudah naik sebagian besar maskapai penerbangan di dunia, tapi tidak pernah sekalipun mengajak sang istri pergi bersamanya. Karena, ia mengira bahwa wanita itu bodoh dan buta huruf. Apa perlunya melihat dunia dan bepergian? Mengapa ia harus mengajaknya pergi bersama?
Ia lupa bahwa wanita itu adalah manusia. Manusia dari awal sampai akhir. Dan kemanusiaannya sekarang tengah bersinar di hadapannya dan bergejolak di dalam hatinya. Ia melihat istrinya membawakan hadiah untuknya dan tidak melupakannya. Betapa besarnya perbedaan antara uang yang ia berikan kepada istrinya saat ia berangkat bepergian atau pulang dengan hadiah yang diberikan sang istri kepadanya dalam perjalanan satu-satunya dan yatim yang dilakukan sang istri. Bagi Khalid, sandal pemberian sang istri itu setara dengan semua uang yang pernah ia berikan kepadanya. Karena uang dari suami adalah kewajiban, sedangkan hadiah adalah sesuatu yang lain. Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia. Tidak pernah terlintas di benak wanita itu untuk mengatakan kepadanya, “Ajaklah aku pergi bersamamu!” Atau bahkan, “Mengapa ia tidak pernah bepergian?” Karena ia adalah wanita miskin yang melihat suaminya di atas, karena pendidikannya, wawasannya, dan kedermawanannya. Tapi ternyata bagi Khalid, semua itu kini menjadi hampa, tanpa rasa dan tanpa hati. Ia merasa bahwa dirinya telah memenjara seorang wanita yang tidak berdosa selama 20 tahun yang hari-harinya berjalan monoton.
Ia merasakan kesedihan tengah meremas hatinya sambil melihat wanita yang penyabar itu. Wanita yang selalu mencuci bajunya, menyiapkan piringnya, melahirkan anak-anaknya, mendampingi hidupnya dan tidak tidur saat ia sakit. Wanita itu seolah-olah baru pertama kali melihat dunia.
Kemudian, Khalid mengangkat tangannya ke matanya untuk menutupi air matanya yang nyaris tak tertahan. Dan ia mengucapkan satu kata kepada istrinya. Satu kata yang diucapkannya untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak pernah terbayang di dalam benaknya bahwa ia akan mengatakannya sampai kapan pun. Ia berkata kepada istrinya, “Aku mencintaimu.” Ia mengucapkannya dari lubuk hatinya.
Kedua tangan sang istri berhenti membolak-balik tas itu. Mulutnya pun berhenti bercerita. Ia merasa bahwa dirinya telah masuk ke dalam perjalanan lain yang lebih menakjubkan dan lebih nikmat daripada kota Dammam, laut, dan pesawat terbang. Yaitu, perjalanan cinta yang baru dimulai setelah 20 tahun menikah. Perjalanan yang dimulai dengan satu kata. Satu kata yang jujur. Ia pun menangis tersedu-sedu.
Sumber: “Malam Pertama, Setelah Itu Air Mata” karya Ahmad Salim Baduwailan, Penerbit eLBA via shalihah.com
Artikel www.kisahmuslim.com

Menembus Pintu Surga

“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti…”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’. Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu).
Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389).
Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”.
Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’ : Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351).
Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).
Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,
لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل
“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30).
Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, “Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.” Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31).
Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?”. Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).
Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, ”Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, ”Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap (sesama) makhluk-Nya.” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, hal. 102).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
”Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma).
Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ”Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kebaikan gerak-gerik anggota badan manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya. Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, hal. 93).
An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108).
Maka dari arah pintu manakah kita -dengan segala kekurangan yang ada- akan berusaha -dengan taufik Allah tentunya- bisa menembus pintu surga? Dari satu pintu, ataukah dari banyak pintu… Allahul muwaffiq
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

Tak mampu kehilangan cinta

Ketika  kedua suami isteri itu baru berpindah ke bandar, hidup mereka penuh ceria, penuh dengan gurau mesra.
Ada masa makan bersama, ada masa solat berjemaah bersama.
Walaupun pendapatan masih kecil kerana perniagaan yang mereka usahakan belum menjadi, tetapi mereka mengharungi kehidupan dengan seadanya.
Sikap saling memahami dan bertimbang rasa jelas terpancar.
Di kejauhan malam atau pada awal pagi sudah kedengaran suara mereka berdua bergurau dan berbual  dengan mesranya.
Minggu demi minggu, bulan demi bulan dan akhirnya beberapa tahun mula berlalu. Perniagaan kecil-kecilan yang diusahakan dahulu semakin maju.
Untuk menguruskan perniagaan yang semakin berkembang, suami adakalanya pulang lewat petang. Manakala si isteri yang juga memulakan pernigaannya sendiri pun semakin sibuk.
Anak-anak pun semakin jarang bertemu dan berbual mesra dengan mereka berdua.
Namun, alhamdulillah keadaan ekonomi keluarga bertambah baik.
Mereka telah berpindah dari rumah yang sempit ke rumah yang lebih luas. Sekarang keluarga itu telah memiliki kereta yang besar.
Bukan sebuah, tetapi dua buah – sebuah untuk suami, sebuah lagi untuk isteri.
Entah kenapa, kemesraan yang dahulu semakin hilang.
Suami semakin leka dengan kawan-kawan seperniagaan dan pelanggannya. Manakala si isteri juga sibuk mempromosi produk jualannya.
Solat berjemaah, makan berjemaah yang dulunya menjadi tradisi semakin jarang dilakukan.
Apatah lagi untuk melihat suami memberi sedikit tazkirah untuk anak-anak dan kemudian keluarga itu saling bermaafan bersama seperti dahulu... hampir tidak pernah lagi.
Benarlah kata bijak pandai, apabila kita mendapat sesuatu, maka pada masa yang sama kita akan kehilangan sesuatu.
Kita tidak akan dapat kedua-duanya pada satu masa.
Justeru, pesan bijak pandai lagi, pastikan apa yang kita dapat lebih berharga daripada apa yang kita hilang.
Keluarga tadi mendapat apa yang mereka cari kemewahan dan keselesaan hidup, tetapi pada masa yang sama mereka sudah hilang kemesraan dan keharmonian dalam kehidupan berumah tangga.
Jika ditanyakan kepada hati nurani kita yang paling dalam, antara keduanya yang mana lebih berharga? Kemewahan hidup atau kerukunan rumahtanga? Tentu kita akan menjawab, kerukunan rumahtangga.
Bukankah kita mencari rezeki dan segala kemewahan hidup untuk  membina sebuah keluarga yang bahagia?
Jika si suami ditanya, untuk apa kamu bertungkus-lumus bekerja siang dan malam?
Tentu jawabnya, kerana isteri aku! Begitulah juga jika ditanyakan kepada si isteri, tentu jawabnya kerana suami.
Dan jika ditanya kepada kedua ibu-bapa itu, untuk apa mereka berusaha, nescaya kita akan dapat jawapannya... demi anak-anak.
Malangnya, mereka dan kita sering tertipu, betapa ramai yang melupakan isteri, meminggirkan suami dan mengabaikan anak-anak semasa mencari kemewahan dan keselesaan hidup?
Kita sering terlupa yang kemewahan hidup - harta, rumah, kereta dan sebagainya bukan matlamat tetapi hanya alat dalam kehidupan ini.
Kita memburu alat untuk mencapai matlamat.
Ertinya, harta dan segalanya itu adalah untuk membahagiakan rumahtangga kita. Begitulah sewajarnya.
Namun, apa yang sering berlaku adalah kita sering tertukar. Alat jadi matlamat, matlamat menjadi alat.
Kebahagian rumahtangga sering jadi pertaruhan dan acapkali tergadai dalam keghairahan kita memburu kemewahan hidup.
Kita berkerja demi anak-anak, anehnya anak-anak kita abaikan semasa bertungkus lumus bekerja. Kita tidak sedar. Kita terus memburu dan memburu.
Bangun dari tidur, berkemas dan terus bekerja. Hampir senja baru pulang. Tidak cukup dengan itu ada lagi kerja yang kita bawa pulang ke rumah.
Tidak cukup lagi, kita keluar pula bertemu pelanggan dalam kerja-kerja 'part time'.
Begitulah kita hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan akhir bertahun-tahun.
Tiba-tiba kita tersentak, mengapa kita sudah jarang menikmati senyum dan gurauan isteri?
Mengapa kita sudah jarang mendapat sentuhan dan belaian suami?
Mengapa ketawa dan gurau senda sudah semakin hilang dalam rumah tangga?
Pada ketika itu, hati yang degil masih mampu memberi alasan. Aku sibuk. Aku sedang mengejar kejayaan dalam profesionalisme.
Sedikit masa lagi, perniagaan ku semakin menjadi.
Nantilah, bila segalanya sudah stabil aku akan kembali serius membina keharmonian keluarga. Nantilah, aku akan ini, aku akan ini...
Begitulah selalunya diri kita memberi alasan. Hati memberi justifikasi yang bukan-bukan.
Dan kita terus selesa dengan alasan, biarlah suami, isteri atau anak-anak berkorban sementara, nantilah kita akan bahagia!
Jangan keliru. Bahagia itu bukan hanya di hujung jalan tetapi bahagia itu ada di sepanjang jalan.
Temuilah bahagia ketika kita mencarinya.  Carilah bahagia yang di sepanjang jalan itu dengan menggenggam rasa cinta sentiasa dan selamanya.
Carilah harta, tetapi genggamlah cinta. Carilah kemewahan hidup tetapi peluklah cinta itu sekuat-kuatnya. Jangan diabaikan cinta itu walau sekelip pun. Maknanya, tunaikanlah hukum-hukum cinta dalam apa jua pun keadaan.
Hukum-Hukum Cinta
Antara hukum cinta yang paling diutamakan adalah: Cinta itu memberi, cinta itu mendengar, cinta itu berkorban, cinta itu tanggungjawab, cinta itu mendoakan dan cinta itu memaafkan.
Contohnya, jangan kesibukan menyebabkan kita jarang lagi memberi masa, perhatian, senyuman, nasihat dan doa kepada pasangan kita.
Jangan hanya mengucapkan kalimah-kalimah cinta yang bersifat 'kosmetik' semata-mata. Tetapi luahkan dalam bentuk perbuatan dan tindakan yang dapat dilihat dan dirasakan.
Dan paling penting, jangan sekali-kali diabaikan cinta suci yang menghubungkan cinta antara suami dan isteri.
Cinta itu adalah cinta Allah! Jagalah cinta kita kepada Allah, insya-Allah, Allah akan terus menyuburkan cinta kita suami isteri.
Allah akan berikan hidayah dan taufik ke dalam hati kita untuk terus berpegang pada matlamat.
Kita akan sentiasa beringat bahawa dunia dan segala isinya ini hanya alat untuk memburu cinta Allah. Dan hanya dengan memburu cinta Allah maka cinta kita sesama suami isteri akan dikekalkan-Nya.
Dunia ini umpama lautan, ramai orang yang memburunya ditenggelamkan.
Dunia ini menipu daya, ramai pula manusia yang ditipunya. Betapa ramai orang yang memburu dunia dengan menggadaikan sesuatu yang menjadi miliknya yang sangat berharga.
Iman, kasih saying, cinta sering dilemparkan orang dilitar perlumbaan memburu dunia.
Dunia tidak salah, selagi kita memburunya dengan niat untuk beribadah. Kita jadikan dia alat untuk memburu kebahagiaan akhirat.
Jadilah dunia umpama kebun yang kita pagar, kita bersihkan dan kita tanam dengan pohon-pohon kebaikan yang hasilnya kita tuai di akhirat.
Jadilah dunia umpama jambatan yang kita lalui.
Pastikan ia teguh, kukuh tetapi kita tidak akan berlama-lama di situ... ia hanya jambatan. Tidak ada orang yang membina rumah di atas jambatan. Rumah kita yang hakiki ialah di syurga.
Jika ada rasa-rasa itu di dalam jiwa ketika kita memburu karier, kejayaan dalam perniagaan dan apa jua aktiviti keduaniaan, insya-Allah cinta dan kasih sayang tidak akan diabaikan.
Orang yang ada di dalam hatinya cinta Allah, sentiasa ada ruang yang lapang untuk mencintai sesama manusia lebih-lebih lagi suami, isteri dan anak-anaknya.
Dengan cinta itu kita akan menyelamatkan semua keluarga kita daripada neraka akhirat.
Dan neraka di akhirat itu hanya akan dapat kita hindari jika kita berjaya menyelamatkan diri dan keluarga kita daripada neraka dunia.
Apakah neraka dunia itu? Nereka dunia itu ialah hilangnya kasih sayang di tengah-tengah rumah yang besar.
Pudarnya cahaya wajah dan ketenangan hati di tengah sinar lampu yang beribu-ribu ringgit harganya di tengah ruang tamu rumah yang besar itu.
Dan hambarnya perbualan di dalam kereta mewah yang sering bertukar ganti.
Yang ketawa ria ialah pelakon-pelakon di dalam filem yang kita tonton, tetapi hati kita semakin kosong, gersang dan sayu entah apa puncanya!
Lihatlah Rasulullah SAW. Betapa sibuknya baginda... tetapi masih ada masa berlumba lari bersama Aisyah isterinya.
Betapa besar perjuangannya... tetapi masih mampu meluangkan masa bersama isteri yang hendak melihat tarian dan permainan pedang di suatu Hari Raya.
Ketika baginda kaya, dikorbankannya harta... kerana baginda tidak kehilangan cinta.
Ketika baginda miskin... dihadapinya dengan sabar kerana di dalam hatinya tetap ada cinta. Baginda tidak pernah kehilangan cinta kerana di dalam hatinya ada cinta yang lebih besar... cinta Allah!
Ayuh Intai-Intai Semula
Justeru, intai-intailah semula cinta di dalam rumah tangga kita. Masih bersinar atau sudah pudar? Jika sudah pudar, ayuh muhasabah kembali di mana puncanya? Apakah yang kita garap hingga kita sanggup menggadaikannya?
Ayuh, lihat kembali 'di mana Allah' dalam rumah tangga kita? Di mana solat jemaah, di mana zikir, di mana tazkirah, di mana sadakah, di mana bacaan Al Quran...
Di manakah semua 'ayat-ayat cinta' itu dalam rumah yang mungkin sudah semakin luas, kereta yang semakin mahal, makanan yang semakin lazat, tabungan kewangan yang semakin banyak?
Dan pandang wajah isteri, renung wajah suami... tatap lama-lama.
Bila kita terakhir kita bertentangan mata dalam keadaan yang paling tenang, harmoni dan syahdu? Sekali lagi bila?
Bukankah mata itu jendela bagi hati. Pertautan mata petanda pertautan hati?
Atau kita hanya melihat sekadar imbasan, tolehan dan pandangan, tanpa ada rasa cinta, kasih, mesra, kasihan, simpati, empati dan lain-lain perisa hati?
Apakah kita secara tidak sedar telah bertukar menjadi 'haiwan berteknologi' dalam belantara dunia meterialisma yang semakin ketandusan cinta?
Lalu, di kejauhan destinasi ketika sibuk menguruskan kerja atau perniagaan, sudi apalah kiranya suami atau isteri menghulurkan gugusan doa-doa yang paling kudus untuk pasangannya?
Atau ketika dia pulang nanti, kita sapa tangannya dan bersalam penuh mesra lantas  berdakapan dengan hati yang terus berkata-kata, "inilah teman ku di dunia untuk menuju syurga!" Inilah yang semakin hilang dalam rumah tangga kini.
Kita memburu tanpa sedar bahawa kitalah yang sebenarnya diburu.
Diburu oleh kesibukan yang tiada penghujung, keresahan yang tiada penawar. Kekosongan yang tidak dapat  di isi. Kerana hati tanpa cinta... adalah hati yang mati!
Carilah cinta kita yang hilang. Insya-Allah kita akan temuinya semula cinta itu di tempat, suasana dan masa ketika kita mula-mula menemuinya dahulu.
Bukankah kita bertemu kerana Allah? Bukankah yang menyatukan kita kalimah-Nya?
Bukankah tempat termaktubnya lafaz akad dan nikah di rumah Allah? Kembalilah ke sana.
Carilah kekuatan itu semula. Tidak ada manusia yang terlalu gagah untuk hidup tanpa-Nya. Dan tidak ada hati yang paling waja hingga mampu bertahan terhadap tipuan dunia tanpa cinta.
Renunglah mata isteri atau suami mu, carilah cinta itu di situ. Masih ada? Atau telah tiada?
Dan kemudian genggam erat tangannya. Mari kita cari semula cinta yang hilang itu bersama-sama!
Sayang... di kejauhan ini
Ku sentuh hatimu dengan rasaku
Debarnya debar cinta
Denyutnya denyut setia
Ku usap air matamu yang jernih
Dengannya ku sulamrasa kasih
Kutatap matamu yang duka
Di situ kutemui makna rela
Sayang.. dikejauhan ini
Ku sapa salam setiamu
Ku sambut  senyum mesramu
Onak, duri dan jeriji besi ini
Tak kan menghalang bicara
... rasa kita berdua
Sayang, sayang, sayang,
Semakin terpisah...
cinta kita  semakin indah
Semakin jauh...
kasih kita semakin kukuh
Kita boleh hilang segalanya
Namun kita tidak mampu kehilangan cinta!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo